Senin, 30 Juli 2018

Jalan Hidayah


Dikisahkan, ada sebuah keluarga yang tersohor dengan dermawannya. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang berumur 17 tahun. Namanya Kanza Angelin. Sikap dan penampilannya mirip seperti anak laki-laki. Jauh berbeda sekali dengan orangtuanya yang sopan. Tapi orangtuanya selalu sabar dalam mengurus dan mendidiknya. Akan tetapi, pada suatu hari Kanza terpergoki oleh Ayahnya sedang meminum minuman keras bersama teman-temannya. Ayahnya sangat marah dan Ibunya pun kecewa. Sehingga mereka memutuskan untuk memasukkan Kanza ke pesantren. Kanza menolaknya dan memohon kepada orangtuanya sambil menangis, “Ayah, Ibu maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Asalkan Ayah dan Ibu tidak akan memasukkan aku ke pesantren”. Ayahnya menjawab “Terlambat! Keputusan Ayah sudah bulat!”. Kanza merengek pada Ibunya. Ibunya pun berkata “Sudahlah nak, turutilah apa keinginan Ayahmu. Ini semua demi kebaikanmu”. Kanza pun terdiam.

Hingga keesokan harinya mereka berangkat ke pesantren. Selama di perjalanan, Kanza hanya bisa pasrah dan menangis. Setibanya di pesantren. Kanza diantarkan sampai kamar santriwati oleh beberapa rohis dan orangtuanya. Lalu orangtuanya pamit untuk pulang. Kanza langsung memegang kaki ayahnya untuk ikut kembali pulang ke rumahnya. Tapi Ayahnya melepaskan tangan Kanza dan berkata “Berubahlah nak, bila kau sudah berubah Ayah akan jemput kembali”. Ayah dan ibunya pun  pergi pulang.

Seminggu sudah berlalu. Kanza tidak betah dengan aturan-aturan yang ada di pesantren. Terlebih setiap hari dia dipaksa untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Dia nekad untuk kabur dari pesantren, tapi terpergoki oleh salahsatu rohis yang ada disana. Kanza pun dibawa ke ruangan pribadi dan di tegor oleh rohis-rohis yang ada.

Satu bulan kemudian. Tanpa sengaja Kanza bertabrakan dengan salah satu anak sesepuh di pesantren itu. Kanza pun terjatuh dan anak sesepuh itu membiarkan dan melewatinya saja. Kanza merasa kesal dan berteriak “Hey...punya mata gak sih loe, udah ngejatuhin gue gak ditolongan lagi!”. Anak sesepuh itu pun barbalik badan lalu berkata “ Maaf...maaf saya tidak sengaja, karena saya buru-buru. Oh ya,maaf aku tidak bisa menolongmu karena kita bukan muhrim. Jadi bangunlah sendiri”. Kanza menjawab “Ih...bukannya ngebantuin malah nyeramahin!”. Anak sesepuh itu pun tersenyum dan langsung pergi meninggalkannya. Kanza pun bangun sendiri dan berjalan ke kamarnya sambil marah-marah.

Keesokan harinya, tibalah pengajian bulanan. Kanza melihat lelaki yang menabraknya kemarin sedang berada di atas panggung. Kanza kebingungan, lalu bertanya pada temannya “Zahra, siapa dia? Kok bisa-bisanya dia diatas panggung? Zahra menjawab “ Kamu tidak tahu yah, dia itu Ustadz Ahmad, Ustadz yang paling muda, dia anak dari sesepuh kita disini. Hmm...kamu suka yah?” Kanza merasa kaget, lalu menjawab “Apa? Ustadz? Saya suka sama dia? Ya enggaklah”. “Hati-hati loh bisa jadi kamu suka”jawab Zahra. Tiba-tiba yang dibelakang berbisik “Sstt..diam... Hargai yang lagi ceramah!” Kanza dan Zahra pun merasa malu.

Akibat mengobrol pada saat ceramah dari Ustadz Ahmad, jadi Kanza hanya mendengar sedikit isi dari ceramahnya “Sehelai rambut wanita yang dihat oleh lelaki yang bukan muhrimnya dengan sengaja, balasannya 70.000 tahun di NERAKA. 1 hari di akhirat sama dengan 1000 hari di dumia. Seorang wanita yang masuk neraka akan menarik 4 lelaki  yaitu : 1. Ayah kandung 2. Adik beradik laki-laki 3. Suami 4. Anak kandung laki-laki. Sangat dahsyat hukumannya!”. Kanza pun tersentuh oleh isi ceramah itu. Dia sangat menyesal dengan sikap dan penampilannya yang dulu dan dia berjanji akan berubah.

Beberapa tahun kemudian, orangtuanya Kanza merasa bersyukur atas perubahan anaknya. Dan mereka merasa bangga karena Kanza telah diangkat menjadi guru ngaji di pesantrennya. Terlebih mereka tidak percaya bahwa Kanza dan Ustadz Ahmad akan segera menikah.